Tampilkan postingan dengan label Proklamasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Proklamasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Maret 2011

Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Acheh dari ‘The Alien People’

2 komentar
by: Ibrahim Ahmad -  R.E.V.O.L.U.S.I  L.A.S.K.A.R  K.E.L.A.N.A




"To the people of the world: 
We, the people of Acheh, Sumatra,exercising our right of self-determination, and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland, do hereby declare ourselves free and independent from all political control of the foreign regime of Jakarta and the alien people of the island of Java...
In the name of sovereign people of Acheh, Sumatra. Tengku Hasan Muhammad di Tiro. 
Chairman, National Liberation Front of Acheh Sumatra and Head of State Acheh, Sumatra, 
December 4, 1976". 
 
Apabila sebagian manusia di dunia telah terinflitrasi pahamnya sehingga dengan mudah meyakini bahwa makhluk bumi telah terancam oleh invasi 'ALIEN' yang akan menguasai dan menjajah mereka (seperti alien dalam gambaran profile di atas), maka barangkali masing-masing bangsa memiliki gambaran 'alien' nya sendiri.

Amerika, dengan film 'The Independence Day' setidaknya ingin mepengaruhi seluruh masyarakat dunia bahwa keamanan bumi sedang terancam. Faktanya, ancaman yang dikumandangkan itu adalah dengan isu perang melawan 'teroris' (tentu dalam hal ini 'alien' tersebut mengarah kepada Islam sebagai objek yang harus diperangi). Secara tidak langsung, AS ingin mengatakan bahwa Ummat Islam yang memegang teguh prinsip aqidah tauhidnya (atau sering mereka sebut dengan istilah 'fundamentalis') adalah 'ALIEN' yang mengancam kemerdekaan masyarakat bumi.

Lain halnya dengan bansa Aceh.. Dalam proklamasi kemerdekaannya, bukan hanya penjajah asing seperti Portugis, Belanda, Jepang dll saja yang menjajah mereka. Akan tetapi, bangsa Jawa pun adalah 'The Alien People' atau bangsa asing yang merenggut kemerdekaan mereka.

Sejarah panjang perjuangan rakyat Aceh untuk mempertahankan kedaulatan kerajaannya dari rongrongan Imperialisme, dan fakta-fakta lain yang diungkap dalam proklamasi mereka sekiranya bisa kita lihat sebagai reaksi keras atas ketidakadilan dan TANDA TANYA BESAR atas keabsahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 


Uraian proklamasi lengkapnya adalah sbb:

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

KEPADA BANGSA-BANGSA DI DUNIA,

Kami bangsa Acheh Sumatra, telah melaksanakan hak hak kami untuk menentukan nasib sendiri, dan melaksanakan tugas kami untuk melindungi hak suci kami atas tanah pusaka peninggalan nenek moyang, dengan ini menyatakan diri kami dan negeri kami bebas dan merdeka dari penguasaan dan penjajahan regime asing Jawa di Jakarta.

Tanah air kami Acheh, Sumatera, telah menjadi satu negara yang bebas, merdeka dan berdaulat selama dunia terkembang, Belanda adalah penjajah asing yang pertama datang mencoba menjajah kami ketika ia menyatakan perang kepada negara Acheh yang merdeka dan berdaulat, pada 26 Mart 1873, dan melakukan serangan atas kami pada hari itu juga, dengan dibantu oleh serdadu-serdadu sewaan Jawa, apa kesudahannya serangan Belanda ini sudah tertulis pada halaman muka surat-surat kabar di seluruh dunia, surat kabar London “Times” menulis pada 22 April, 1873:

“Suatu kejadian yang sangat menarik hati sudah diberitakan terjadi di kepulauan Hindia Timur, satu kekuatan besar dari tentara bangsa Eropah sudah dikalahkan dan dipukul mundur oleh tentara anak negeri… tentara negara Acheh, bangsa Acheh sudah mendapat kemenangan yang menentukan. Musuh mereka bukan saja sudah kalah, tetapi dipaksa melarikan diri”.

Surat kabar Amerika, “The New York Times” pada 6 Mei 1873, menulis: “Peperangan yang berkubang darah sudah terjadi di Acheh, kerajaan yang memerintah Sumatra Utara, tentara Belanda sudah menyerang negara itu dan kini kita sudah mengetahui kesudahannya, serangan Belanda telah dibalas dengan penyembelihan besar-besaran atas Belanda, jenderal Belanda sudah dibunuh, dan tentaranya melarikan diri dengan kacau balau. Menurut kelihatan, sungguh-sungguh tentara Belanda sudah dihancur leburkan.

Kejadian ini telah menarik perhatian seluruh dunia kepada kerajaan Acheh yang merdeka dan berdaulat lagi kuat itu. Presiden Amerika Serikat, Ulysses S. Grant sengaja mengeluarkan satu pernyataan yang luar biasa menyatakan negaranya mengambil sikap neutral yang adil, yang tidak memihak kepada Belanda atau Acheh, dan ia meminta agar negara-negara lain bersikap sama sebab ia takut perang ini bisa meluas.

Para hari 25 Desember (hari natal), 1873, Belanda menyerang Acheh lagi, untuk kali yang kedua, dengan tentara yang lebih banyak lagi, yang terdiri dari Belanda dan Jawa, dan dengan ini mulailah apa yang dinamakan oleh majalah Amerika “Harper’s magazine” sebagai “perang seratus tahun abad ini”. Satu perang penjajahan yang paling berlumur darah, dan paling lama dalam sejarah manusia, dimana setengah dari bangsa kami sudah memberikan korban jiwa untuk mempertahankan kemerdekaan kami. Perang kemerdekaan ini sudah diteruskan sampai pecah perang dunia ke-II, delapan orang nenek dari yang menandatangani pernyataan ini sudah gugur sebagai syuhada dalam mempertahankan kemerdekaan kami ini. Semuanya sebagai Wali Negara dan Panglima Tertinggi yang silih berganti dari negara islam Acheh Sumatra.

Tetapi sesudah Perang Dunia ke-II, ketika Hindia Belanda katanya sudah dihapuskan, tanah air kami Acheh Sumatra, tidaklah dikembalikan kepada kami, sebenarnya Hindia Belanda belum pernah dihapuskan. Sebab sesuatu kerajaan tidaklah dihapuskan kalau kesatuan wilayahnya masih tetap dipelihara -sebagai halnya dengan Hindia Belanda, hanya namanya saja yang ditukar dari “Hindia Belanda” menjadi “Indonesia” Jawa, sekarang bangsa Belanda telah digantikan oleh bangsa Jawa sebagai penjajah, bangsa Jawa itu adalah satu bangsa asing dan bangsa seberang lautan kepada kami bangsa Acheh-Sumatera. Kami tidak mempunyai hubungan sejarah, politik, budaya, ekonomi dan geografi (bumi) dengan mereka itu. Kalau hasil dari penaklukan dan penjajahan Belanda tetap dipelihara bulat, kemudian dihadiahkan kepada bangsa Jawa, sebagaimana yang terjadi, maka tidak boleh tidak akan berdiri satu kerajaan penjajahan Jawa diatas tempat penjajahan Belanda. tetapi penjajahan itu, baik dilakukan oleh orang Belanda, Eropah yang berkulit putihm atau oleh orang Jawa, Asia yang berkulit sawo matang, tidaklah dapat diterima oleh bangsa Acheh, Sumatera.

“Penyerahan kedaulatan” yang tidak sah, illegal, yang telah dilakukan oleh penjajah lama, Belanda, kepada penjajah baru, Jawa, adalah satu penipuan dan kejahatan politik yang paling menyolok mata yang pernah dilakukan dalam abad ini: sipenjajah Belanda kabarnya konon sudah menyerahkan kedaulatan atas tanah air kita Acheh, Sumatera, kepada satu “bangsa baru” yang bernama “Indonesia”. Tetapi “Indonesia” adalah kebohongan, penipuan, dan propaganda, topeng untuk menutup kolonialisme bangsa Jawa. Sejak mulai dunia terkembang, tidak pernah ada orang, apalagi bangsa, yang bernama demikian, di bagian dunia kita ini. Tidak ada bangsa yang bernama demikian di kepulauan Melayu ini menurut istilah ilmu bangsa (ethnology), ilmu bahasa (philology), ilmu asal budaya (cultural antropology), ilmu masyarakat (sociology) atau paham ilmiah yang lain, “Indonesia” hanya merek baru, dalam bahasa yang paling asing, yang tidak ada hubungan apa-apa dengan bahasa kita, sejarah kita, kebudayaan kita, atau kepentingan kita, “Indonesia” hanya merek baru, nama pura-pura baru, yang dianggap boleh oleh Belanda untuk menggantikan nama “Hindia Belanda” dalam usaha mempersatukan administrasi tanah-tanah rampasannya di dunia Melayu yang amat luas ini, sipenjajah Jawapun tahu dapat menggunakan nama ini untuk membenarkan mereka menjajah negeri orang di seberang lautan. Jika penjajahan Belanda adalah salah, maka penjajahan Jawa yang mutlak didasarkan atas penjajahan Jawa itu tidaklah menjadi benar. Dasar yang paling pokok dari hukum internasional mengatakan: “Ex Injuria Jus Non Oritur”- Hak tidak dapat berasal dari yang bukan hak, kebenaran tidak dapat berasal dari kesalahan, perbuatan legal tidak dapat berasal dari illegal.

Meskipun demikian, bangsa Jawa tetap mencoba menyambung penjajahan Belanda atas kita walaupun Belanda sendiri dan penjajah penjajah barat lainnya sudah mundur, sebab seluruh dunia mengecam penjajahan. Dalam masa tiga-puluh tahun belakangan ini kami bangsa Acheh, Sumatera, sudah mempersaksikan betapa negeri dan tanah air kami telah diperas habis-habisan oleh sipenjajah Jawa; mereka sudah mencuri harta kekayaan kami; mereka sudah merusakkan pencaharian kami; mereka sudah mengacau pendidikan anak kami; mereka sudah mengasingkan pemimpin-pemimpin kami; mereka sudah mengikat bangsa kami dengan rantai kezaliman, kekejaman, kemiskinan, dan tidak peduli: masa hidup bangsa kami pukul rata 34 tahun dan makin sehari makin kurang. Bandingkan ini dengan ukuran dunia yang 70 tahun dan makin sehari makin bertambah, sedangkan Acheh, Sumatera, mengeluarkan hasil setiap tahun bagi sipenjajah Indonesia-Jawa lebih 15 milyar dollar Amerika yang semuanya dipergunakan untuk kemakmuran pulau Jawa dan bangsa Jawa.

Kami, bangsa Acheh, Sumatera, tidaklah mempunyai perkara apa-apa dengan bangsa Jawa kalau mereka tetap tinggal di negeri mereka sendiri dan tidak datang menjajah kami, dan berlagak sebagai “Tuan” dalam rumah kami, mulai saat ini, kami mau menjadi tuan di rumah kami sendiri; hanya demikian hidup ini ada artinya, kami mau membuat hukum dan undang-undang kami sendiri; yang sebagai mana kami pandang baik; menjadi penjamin kebebasan dan kemerdekaan kami sendiri; yang mana kami lebih dari sanggup; menjadi sederajat dengan semua bangsa-bangsa di dunia; sebagaimana nenek moyang kami selalu demikian, dengan pendek: Menjadi berdaulat atas persada tanah air kampung kami sendiri.

Perjuangan kemerdekaan kami penuh keadilan, kami tidak menghendaki tanah bangsa lain- bukan sebagai bangsa Jawa datang merampas tanah kami, tanah kami telah dikaruniai Allah dengan kekayaan dan kemakmuran, kami berniat memberi bantuan untuk kesejahteraan manusia sedunia, kami mengharapkan pengakuan dari anggota masyarakat bangsa-bangsa yang baik, kami mengulurkan persahabatan kepada semua bangsa dan negara dari ke-empat penjuru bumi.

ATAS NAMA BANGSA ACHEH, SUMATERA, YANG BERDAULAT.
Tengku Hasan Muhammad Di TiroKetua, Angkatan Acheh, Sumatera Merdeka dan Wali Negara Acheh, Sumatera, 4 Desember 1976

-----

Gerakan Acheh Merdeka (GAM) adalah upaya-upaya untuk mempertahankan kemerdekaan Aceh dari para penjajah. Hanya saja, bangsa Aceh menganggap bahwa Pemerintah Republik Indonesia yang dikuasai bangsa Jawa adalah penjajah berikutnya setelah Belanda dan Jepang.
 
Pada 15 Agustus 2005, GAM dan Pemerintah Republik Indonesia akhirnya menandatangani persetujuan damai sehingga mengakhiri konflik antara kedua pihak yang telah berlangsung selama hampir 30 tahun.


Tapi perjuangan bangsa Aceh mungkin belum berakhir.. Pada 15 Januari 2006 kita bisa melihat Deklarasi kelanjutannya sbb:

Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik

Sekretariat:
New York, United States.
Tel/Fax. +1 718 337 8843
Stockholm, Scandinavia.
Tel. + 46 739 756532          
           preparatory.committee@gmail.com

Deklarasi

Kepada bangsa kami dan semua bangsa di dunia serta institusi-institusi internasional:

Kami yang tergabung dalam Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik dengan ini menyatakan bahwa akan tetap meneruskan perjuangan untuk suatu konteks demokrasi yang lebih luas dan merata di tanah leluhur kami, Acheh, dengan penghormatan terhadap hukum-hukum international.

Diakui bahwasanya terdapat aspek positif dari Perjanjian yang telah ditanda tangani oleh Gerakan Acheh Merdeka (GAM) di bawah kepemimpinan Malik Mahmud dan perwakilan Indonesia di Helsinki pada 15 Agustus 2005, dan proses perdamaian yang sedang berlangsung telah menurunkan tingkat kekerasan di Acheh. Akan tetapi pada proses kelahirannya perjanjian tersebut adalah tidak memiliki kriteria demokrasi dan keterbukaan.

Meskipun terdapat banyak permintaan dari pelbagai pihak termasuk dari masyarakat sivil termasuk anggota GAM sendiri untuk menjadi bagian dari proses perundingan dan dibenarkan untuk memberi masukan dalam pembahasan kesepakatan tersebut, namun hanya beberapa saja yang terpilih dan dilibatkan.

Proses perundingan Helsinki dan hasil kesepakatan tersebut adalah tidak memiliki fondasi yang kokoh baik itu secara politik maupun demokrasi, dan tidak mempunyai justifikasi secara moral. Oleh sebab itu perjanjian tersebut tidak akan mampu bertahan dalam tempo yang lama.

Kami para pejuang setia Acheh Merdeka telah berdiri tegak dan bersatu dalam barisan Komite ini untuk: melanjutkan perjuangan kemerdekaan; mengembalikan kedaulatan Negara dan Bangsa; mempersiapkan berdirinya suatu pemerintahan yang bebas dan demokrat di Acheh; memperjuangkan aspirasi bangsa Acheh yang tertindas dan terabaikan. Semua maksud tersebut akan kami jalankan demi kebaikan bangsa kami agar dapat berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa maju di dunia dalam kontribusinya untuk memperjuangkan perdamaian dunia, hak asasi manusia, kemerdekaan, keadilan, dan demokrasi. 

Kami percaya bahwa tidak ada suatu alasanpun yang dapat menghalangi kelanjutan perjuangan ini. Aspirasi Bangsa Acheh telah jelas tertulis dalam Proklamasi Acheh Merdeka 4 Desember 1976, dan terpahat dalam setiap jiwa bangsa Acheh, khususnya mereka yang telah berjuang tak kenal lelah untuk mencapai cita-cita tersebut.

Dengan ini kami memanggil semua bangsa Acheh di mana pun berada agar bangkit bersama dalam suatu barisan untuk merebut kembali kedaulatan serta marwah bangsa dan Negara Acheh. Dalam rangka menyusun kembali perjuangan besar yang kita warisi ini, telah kita dirikan Komite Persiapan Acheh Merdehka Demokratik yang akan mengambil langkah-langkah penting dalam meraih maksud tersebut.

New York, 15 January 2006.

Komite Persiapan Acheh Merdehka Demokratik:

  1. Affan Madjid (Acheh, Peureulak)
  2. Aiman Zulkarnaen (Acheh)
  3. Amir Tereusep  (Acheh Rayek)
  4. Amirul Mu'minin Nya' Tjut Ali (Acheh)
  5. Arifin Amin Syech (Australia)
  6. Asnawi Ali (Sweden)
  7. Eddy L. Suheri (United States)
  8. Fuadi Azmi (South Africa)
  9. Ghazali Abdul Hamid (Malaysia)
  10. Guree Rahman Ismail (Sweden)
  11. Hafizzul Majid (Acheh)
  12. Hanafiah Ahmad (Norway)
  13. Hasan Kumbang (Acheh)
  14. Ibnu Hasan Abdullah (Acheh)
  15. Ichlas Ramadhan (United States)
  16. Inong Zhahir Ramadhani (Acheh)
  17. Ishak Beulama (Acheh, Mereuhom Daya)
  18. Jaffaniel Alamsyah (Acheh)
  19. Khusairi Ismail (Acheh)
  20. Mustafa Krueng (United States)
  21. Syahbuddin Rauf (Sweden)
  22. Syuhada Linge (Acheh, Linge)
  23. Tgk. Lahmuddin Pang Teh (Malaysia)
  24. Yusuf Daud (Sweden)
  25. Zikrinullah Makarim (Malaysia)
* Diterjemahkan dari Deklarasi asal bahasa Inggris.

-----

Hasan Tiro, dalam The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, 
National Liberation Front of Acheh Sumatra,1984, hal :15,17; (dengan terjemahan sbb:)

 
"Kepada bangsa di seluruh dunia:
Kami, bangsa Aceh, Sumatra melaksanakan hak menentukan nasib sendiri,dan 
melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami, dengan ini 
mendeklarasikan bebas dan berdiri sendiri dari semua kontrol politik 
pemerintah asing Jakarta dan dari orang asing Jawa....
Atas nama rakyat Aceh, Sumatra yang berdaulat. Tengku Hasan Muhammad di Tiro. 
Ketua National Liberation Front of Acheh Sumatra dan Presiden Aceh Sumatra, 
4 Desember 1976") 

Kamis, 24 Februari 2011

Deklarasi Pembentukan Negara Israel

0 komentar
by: Ibrahim Ahmad -  R.E.V.O.L.U.S.I  L.A.S.K.A.R  K.E.L.A.N.A

Apabila anda telah membaca keseluruhan The Protocols of the Learned Elders of Zion, maka mungkin anda akan menyatakan hal yang sama dengan ku. Apa yang aku nyatakan adalah bahwa 24 pasal itu adalah AYAT-AYAT SYAITHAN, semuanya tidak lebih dari upaya makar terhadap ALLAH SWT dan tipuan bagi ummat manusia bani Adam.

Deklarasi Pembentukan Negara Israel adalah wujud kongkrit perjuangan para syaithan dalam membangun RUMAH nya.. dengan tekad untuk menyatukan semua bangsa dan negara yang ada dalam satu naungan kendali PENJAJAHAN nya, 'The New World Order'.

Bangsa dan negara manapun yang tidak menyadari tipu daya itu, maka akan menjadi teman-teman syaithan dan menyerahkan kendali kepada thaghut itu. SUKARELA ataupun TERPAKSA !!!

Hanya sayang di sayang.. ALLAH SWT sebaik-baik pembalas tipu daya.. sehingga aku yakin!!! Konspirasi itu sedang menuju KEHANCURAN nya..


Tapi aku akan selalu bertanya.. ya! kepada ANDA!!!
Apakah Anda hanya akan menjadi penonton dan ikut dalam kehancurannya ??? ataukah akan melawan syaithan-syaithan (thaghut) itu demi meraih KEMULIAAN Anda di hadapan ALLAH SWT ???

Semuanya terserah Anda.. Salam Revolusi !!!



THE DECLARATION OF THE ESTABLISHMENT OF THE STATE OF ISRAEL
May 14, 1948

Proklamasi ini dapat dibagi menjadi empat bagian: 
  1. bagian yang menggambarkan sejarah bangsa Yahudi, 
  2. perjuangan untuk memperbaharui kehidupan politik dan pengakuan internasional atas hak ini, 
  3. bagian operasi yang menyatakan pembentukan negara; bagian yang menyatakan prinsip-prinsip yang akan memandu Negara Israel, dan 
  4. banding kepada PBB, penduduk negara Arab , negara-negara Arab dan Yahudi dunia. 



Berikut ini kurang lebih terjemahan bahasa Indonesianya:

Tanah Israel adalah tempat kelahiran bangsa Yahudi. Di sini rohani mereka, agama dan identitas nasional dibentuk. Di sini mereka mencapai kemerdekaan dan menciptakan sebuah budaya nasional dan signifikansi universal. Di sini mereka menulis dan memberikan Alkitab kepada dunia.

Diasingkan dari Tanah Israel, orang-orang Yahudi tetap setia di semua negara dispersi mereka, tidak pernah berhenti berdoa dan berharap untuk kembalinya mereka dan pemulihan kebebasan nasional mereka.


Terdorong oleh asosiasi bersejarah orang-orang Yahudi berusaha selama berabad-abad untuk kembali ke tanah nenek moyang mereka dan mendapatkan kembali kenegaraan mereka. Dalam beberapa dekade terakhir mereka kembali di massa mereka. Mereka reklamasi padang gurun, menghidupkan kembali bahasa mereka, membangun kota-kota dan desa, serta mendirikan sebuah komunitas yang kuat dan terus tumbuh, dengan ekonomi dan budaya hidupnya sendiri. Mereka mencari perdamaian belum siap untuk mempertahankan diri. Mereka membawa berkat-berkat kemajuan bagi semua penduduk negeri dan memandang ke depan untuk kemerdekaan berdaulat.


Pada tahun 1897 Kongres Zionis Pertama, terinspirasi oleh visi Negara Yahudi Theodor Herzl, menyatakan hak orang-orang Yahudi untuk kebangkitan nasional di negara mereka sendiri. Hak ini telah diterima oleh Deklarasi Balfour 2 November 1917, dan kembali ditegaskan oleh mandat Liga Bangsa-Bangsa, yang memberikan pengakuan internasional eksplisit untuk hubungan bersejarah orang-orang Yahudi dengan Palestina dan hak mereka untuk menyusun kembali National Home mereka.


Bencana yang baru-baru ini melanda orang-orang Yahudi, pembantaian jutaan orang Yahudi di Eropa, lagi-lagi membuktikan kebutuhan untuk memecahkan masalah tunawisma dan kurangnya kemerdekaan rakyat Yahudi dengan cara pendirian kembali Negara Yahudi, yang akan membuka pintu gerbang untuk semua Yahudi dan memberkati orang-orang Yahudi dengan kesetaraan status antara keluarga bangsa-bangsa.


Orang-orang yang selamat dari holocaust Nazi di Eropa, dan juga orang-orang Yahudi dari tanah lainnya, tidak terhenti dari upaya untuk mencapai Eretz Israel, dalam menghadapi kesulitan, hambatan dan bahaya, dan belum berhenti untuk mendesak hak mereka untuk hidup yang bermartabat, kebebasan dan jujur bekerja keras di tanah leluhur mereka.


Dalam Perang Dunia Kedua orang Yahudi di Palestina memberikan kontribusi penuh kepada perjuangan bangsa-bangsa yang mencintai kebebasan melawan kejahatan Nazi. Pengorbanan tentara mereka dan upaya perang mereka mendapatkan hak mereka untuk peringkat dengan bangsa-bangsa, yang didirikan PBB. Pada tanggal 29 November 1947, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadopsi Resolusi memerlukan pembentukan sebuah Negara Yahudi di Palestina. Majelis Umum dipanggil penduduk negara untuk mengambil semua langkah yang diperlukan pada bagian mereka untuk mencantumkan rencana berlaku. Pengakuan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai hak orang-orang Yahudi untuk mendirikan negara merdeka nya ini tidak bisa diganggu gugat.


Ini adalah hak alami dari orang-orang Yahudi untuk memimpin, seperti halnya semua bangsa lain, sebuah eksistensi kemerdekaan di Negara berdaulat nya.


OLEH KARENA ITU KAMI, para anggota Dewan Nasional, mewakili orang-orang Yahudi di Palestina, dan Gerakan Zionis Dunia, terpenuhi bersama dalam pertemuan khusyuk hari ini, hari berakhirnya mandat Inggris untuk Palestina, dan berdasarkan alam dan sejarah hak rakyat Yahudi dan dari Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.


KAMI DENGAN INI MEMPROKLAMASIKAN berdirinya Negara Yahudi di Palestina untuk disebut 'Medinal Israel (Negara Israel). KAMI DENGAN INI MENYATAKAN bahwa, seperti dari berakhirnya Mandat Inggris di tengah malam, 14-15 Mei 1948, dan menunggu pengaturan dari badan terpilih sah Negara sesuai dengan Konstitusi, yang akan dibuat oleh Konstituante Majelis tidak lebih dari 1 Oktober 1948, Dewan Nasional bertindak sebagai Dewan Negara Sementara, dan bahwa Administrasi Nasional merupakan Pemerintahan Sementara Negara Yahudi, yang akan dikenal sebagai Israel.


NEGARA ISRAEL akan terbuka untuk imigrasi orang Yahudi dari seluruh negara dispersi mereka, akan mempromosikan pembangunan negara untuk kepentingan semua penghuninya, akan didasarkan pada prinsip-prinsip kebebasan, keadilan dan perdamaian yang dipahami oleh para nabi Israel, akan menegakkan kesetaraan sosial dan politik penuh dari semua warga negaranya, tanpa membedakan agama, ras atau seks akan menjamin kebebasan beragama, hati nurani, pendidikan dan budaya; akan menjaga Tempat Suci dari semua agama, dan setia akan menegakkan prinsip-prinsip Piagam PBB.


NEGARA ISRAEL akan siap untuk bekerja sama dengan organ-organ dan perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam pelaksanaan Resolusi Majelis tanggal 29 November 1947, dan akan mengambil langkah-langkah untuk membawa tentang Uni Ekonomi atas seluruh Palestina. Kami menyerukan kepada PBB untuk membantu orang-orang Yahudi di gedung Negara dan mengakui Israel dalam keluarga bangsa-bangsa. Di tengah agresi wanton, kami belum menyerukan kepada penduduk Arab  dari Negara Israel untuk melestarikan cara-cara damai dan berperan dalam pengembangan Negara, atas dasar dan kesamaan kewarganegaraan penuh dan representatif dalam semua badan dan lembaga - sementara dan permanen.


Kami mengulurkan tangan kami dalam damai dan bertetangga untuk semua negara-negara tetangga dan masyarakat mereka, dan mengundang mereka untuk bekerja sama dengan bangsa Yahudi merdeka untuk kebaikan semua. Negara Israel siap untuk memberikan kontribusinya terhadap kemajuan Timur Tengah secara keseluruhan.


Panggilan kami kepada orang-orang Yahudi di seluruh dunia untuk berlomba ke sisi kami dalam tugas imigrasi dan pembangunan dan untuk berdiri bersama kami dalam perjuangan besar untuk pemenuhan impian generasi untuk penebusan Israel.


Dengan percaya pada Tuhan Yang Maha Esa, kita menetapkan tangan untuk Deklarasi ini, pada Sidang Dewan Negara Sementara, pada malam hari Sabat, yang kelima dari Iyar 5708, hari keempat belas bulan Mei, 1948.


Penanda
tangan


David Ben-Gurion, Daniel Auster, Mordechai Bentov, Isaac Ben-Zvi, Eliyahu Berligne, Fritz (Peretz) Bernstein, Rabbi Wolf Gold, Meir Grabovsky, Isaac Gruenbaum, Dr Abraham Granovsky (Granott), Eliyahu Dobkin, Meir Wilner-Kovner, Zerach Wahrhaftig, Herzl Vardi,
Rachel Cohen, Rabbi Kalman Kahana, Saadia Kobashi, Rabbi Isaac Meir Levin, Meir David Loewernstein, Zvi Luria, Golda Myerson (Meir), Nachum Nir, Zvi Segal,  Rabbi Yehuda Leib Fishman (Maimon), David Zvi Pinkas, Aharon Zisling, Moshe Kolodny (Kol), Eliezer Kaplan,
Abraham Katznelson, Felix Rosenblueth (Rosen), David Remez, Berl Repetur, Mordechai Shattner, Ben Zion Sternbery, Bechor Shitreet, Moshe Shertok (Sharett). 

Berikut ini adalah naskah aslinya, ditulis dalam teks Ibrani:



Lagu Kebangsaan

Pada proklamasi Israel pada tahun 1948, lagu ini dijadikan lagu kebangsaan Israel.
Teks Ibrani : (bahasa asli) כל עוד בלבב פנימה נפש יהודי הומיה ולפאתי מזרח קדימה עין לציון צופיה עוד לא אבדה תקותנו התקוה בת שנות אלפים להיות עםחופשיבארצנו ארץ ציון וירושלים

Artinya : Jauh di lubuk hati, nafas seorang Yahudi mendesah, dan sampai ke ufuk timur, mata tetap memandang Sion, Tetapi harapan kami tidaklah hilang, Harapan selama dua ribu tahun, Menjadi orang merdeka di tanah sendiri, Tanah Sion dan Yerusalem  

Hatikva merupakan lagu kebangsaan Israel. Kata Ibrani ini arti harafiahnya adalah "Harapan".
Lirik Hatikvah digubah oleh Naphtali Herz Imber (1856-1909) di Jassy pada tahun 1878. Ia berasal dari Galisia (sekarang berada di Polandia, Rumania dan Ukraina).





Ingatlah sahabatku:

"... Mereka memikirkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya."
(QS. Al Anfaal, 8 : 30)

"Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaithan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaithan itu adalah lemah."
(QS. An-Nisaa', 4 : 76)




Senin, 21 Februari 2011

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

0 komentar
by: Ibrahim Ahmad -  R.E.V.O.L.U.S.I  L.A.S.K.A.R  K.E.L.A.N.A

Tulisan ini aku ambil dari berbagai sumber, dan anda pun bisa mencarinya sendiri.. hanya saja, aku ingin mengomentari beberapa hal yang menurutku penting..
 
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (Jumat, 17 Agustus 1945 M atau 17 Ramadan 1365 H) dibacakan oleh Ir. Soekarno yang didampingi oleh Drs. Muhammad Hatta di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini, Jakarta Pusat.

Sepulang Peristiwa Penculikan Rengasdengklok (atas desakan para Pemuda Sosialis), inilah sebuah pernyataan kemerdekaan yang sebelumnya di dalam pidatonya Soekarno ada mengatakan “…sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan tanah air di tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib di tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya…”

Padahal sebelumnya Syahrir telah menyusun teks proklamasi dan telah dikirimkan ke seluruh Jawa untuk dicetak dan dibagi-bagikan. Ada sebaris teks proklamasi yang diingat oleh Des Alwi yaitu :  “Kami bangsa Indonesia dengan ini memproklamirkan kemerdekaan Indonesia karena kami tak mau dijajah dengan siapa pun juga." Hal ini dikuatkan dalam sebuah buku berjudul Sjahrir yang dikarang oleh Rudolf Mrazek yang mengatakan bahwa  teks proklamasi yang dibacakan oleh dr.Soedarsono diketik sepanjang 300 kata. Namun Sjahrir mengatakan kehilangan teks proklamasi yang disimpannya.

Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat sangat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap, Soekarno mengingatkan Hatta bahwa Syahrir tidak berhak memproklamasikan kemerdekaan karena itu adalah hak Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Saat itu BPUPKI (sebelum berubah menjadi PPKI) telah mempersiapkan Naskah Proklamasi sbb:

Teks Proklamasi Versi BPUPKI

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan. Bangsa Indonesia di zaman dahulu telah mempunyai riwayat mulia dan bahagia, yang batas-batasnya meliputi seluruh kepulauan Indonesia sampai ke Papua, malah melampaui ke daratan Asia sampai ke batas-batas tanah Siam; negara merdeka, yang dalam perhubungan perdamaian dan persahabatan dengan negara-negara merdeka di daratan Asia, menyambut tiap-tiap bangsa yang datang dengan kemurahan hati.

Kedatangan bangsa-bangsa Barat di Indonesia, membawalah bencana kepada bangsa Indonesia itu. Lebih dari tiga abad meringkuklah bangsa Indonesia di bawah kekuasaan Belanda dengan haluan politik jahat: memecah-mecah persatuan kita, menghina, menginjak-injak rasa kehormatan kita, menghina, menghisap-memeras kekayaan kita untuk kepentingan bangsa Belanda sendiri.

Perkosaan yang jahat itu tidak dapat persambungan dalam dunia seterusnya, yang di dalamnya bertambah-tambah kehebatan perlombaan imperialisme Barat, berebut kekayaan segenap dunia. Dan lama-kelamaan bangkitlah kembali dengan sehebat-hebatnya semangat perlawanan bangsa Indonesia, yang memang tak pernah padam dan tak pernah dipadamkan, dalam lebih 3 abad perkosaan oleh imperialisme Belanda itu. Sejarah kolonialisme Belanda di Indonesa adalah sejarah berpuluh-puluh pemberontakan bangsa Indonesia melawan imperialisme Belanda itu. Bergeloralah lagi di dalam kalbu bangsa Indonesia tekad yang berkobar-kobar berbangkit kembali sebagai satu bangsa yang merdeka dalam satu negara yang merdeka, melahirkanlah pergerakan teratur dalam bangsa Indonesia, yang didasarkan atas cita-cita keadilan dan kemanusiaan, menuntut pengakuan hak kemerdekaan tiap-tiap bangsa. Tidak tercegah, tidak tertahan tumbuhnya, meluas dan mendalam pergerakan ini dalam segenap lapisan dan segenap barisan bangsa Indonesia, betapa pun kerasnya, betapa pun buasnya betapa pun ganasnya kekuatan pemerintah Belanda berikhtiar mencegah dan menindasnya.

Di saat memuncaknya gelagat pergerakan itu yang seperti saat kelahiran anak dari kandungan ibunya, maka Tuhan Yan Maha Kuasa telah membelokkan perjaanan riwayat dunia, mengalih/memindahakn perimbangan kekuasaan di muka bumi, istimewa di daerah Lautan Teduh, untuk membantu pembinaan kelahiran itu.

Tuntutan Dai Nippo Teikoku, bertentangan degnan tujuan-tujuan imperialisme Barat, yaitu tuntutan hak kemerdekaan Asia atas dasar persamaan hak bangsa-bangsa, serta politik yang dengan tegas dan tepat dijalankan olehnya, menuju pembangunan negara-negara merdeka dan lingkungan kemakmuran bersama Asia Timur Raya, akhirnya telah menyebabkan Dai Nipoon Teikoku menyatakan perang kepada Amerika Serikat dan Inggris. Perang Asia Timur Raya ini, yang berkebetulan dengan saat memuncaknya perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesa dan pergerakan kemerdekaan bangsa-bangsa Asia yang lain, menjadilah sebagai puncak pertemuan perjuangan kemerdekaan segala bangsa Asia di daratan dan di kepulauan Asia.

Dengan mengakui dan menghargai tinggi keutamaan niat dan tujuan Dai Nipoon Teikoku dengan Perang Asia Timur Raya itu, maka tiap-tiap bangsa dalam lingkungan Asia Timur Raya atas dasar pembelaan bersama, wajiblah menyumbangkan sepenuhnya tenaganya dengan tekad yang sebulat-bulatnya, kepada perjuangan bersama itu, sebagai jaminan yang seteguh-teguhnya untuk keselamatan kemerdekaannya masing-masing.

Maka sekarang, telah sampailah perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia kepada saat yang berbahagia, dengan selamat sentausa menghantarkan rakyat Indonesia, adil dan makmur, yang hidup sebagai anggota sejati dalam kekeluargaan Asia Timur Raya. Di depan pintu gerbang Negara Indonesia itulah rakyat Indonesia menyatakan hormat dan terima kasih kepada semua pahlawan-pahlawan kemerdekaannya yang telah mangkat.

Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa, berdasar atas segala alasan yang tersebut di atas itu, dan didorong oleh keinginan luhur supaya bertangung-jawab atas nasib sendiri, berkehidupan kebangsaan yang bebas, mulia, terhormat, maka rakyat Indonesia dengan ini: MENYATAKAN KEMERDEKAAN.

* Naskah ini tidak jadi dibacakan karena pada dinihari 17 Agustus 1945, pada saat Soekarno-Hatta, dkk., berkumpul di kediaman Marsekal Maeda untuk membahas pernyataan kemerdekaan, tidak ada satu pun orang yang hadir membawa naskah Pernyataan Kemerdekaan yang disusun di BPUPKI.
 
Puncak perjuangan yang pada akhirnya harus keluar dari mulut Soekarno, sebuah bukti sejarah bahwa ia memang layak mengambil posisi untuk menyatakan itu. Karena sebelum Proklamasi ini terjadi, sebelumnya juga sudah dibacakan dua proklamasi yaitu Proklamasi Gorontalo 23 Januari 1942 dan Proklamasi Cirebon 15 Agustus 1945. Namun kedua Proklamasi ini tidak diakui sebagai buah pernyataan kemerdekaan bangsa Indonesia dalam arti sebagai hari peringatan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Bahkan dokumentasi Proklamasi Cirebon 15 Agustus 1945 juga tak ada. Bahkan dr. Soedarsono menceritakan bahwa Mr. Jusuf, seorang anggota PKI lama yang beristrikan seorang wanita Belanda juga membuat Proklamasi di Indramayu, suatu kabupaten dekat Cirebon. Namun dr. Soedarsono tidak menjelaskan kapan Mr. Jusuf membacakan proklamasinya. Bila hal ini benar, maka di bulan Agustus 1945 ada 3 Proklamasi yang dibacakan.

Dari cuplikan itu, aku mempertanyakan Proklamasi-Proklamasi yang jarang atau tidak diungkap dalam sejarah. Nanti, kalo masih ada waktu aku pun ingin membicarakannya... Karena sampai saat ini, di Indonesia banyak Proklamasi...



Ini adalah naskah yang sebenarnya hasil gubahan Muh.Hatta, A.Soebardjo, dan dibantu oleh Ir.Soekarno sebagai pencatat (tulisan tangan Soekarno, terlihat ada coretan koreksi).


Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, 17 - 8 - '45
Wakil2 bangsa Indonesia.


Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan BM Diah. Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik. Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.
 
 


Naskah asli proklamasi yang ditempatkan di Monumen Nasional. Isi teks proklamasi kemerdekaan yang singkat ini adalah:

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta

 

Teks diatas merupakan hasil ketikan dari Sayuti Melik (atau Sajoeti Melik), salah seorang tokoh pemuda yang ikut andil dalam persiapan proklamasi.

Di sini ditulis tahun 05 sesuai dengan tahun Jepang yang kala itu adalah tahun 2605, karena pada saat itu Indonesia menggunakan kalender Jepang akibat dijajah Jepang. Tahun yang dipakai waktu itu adalah Tahun Kooki yang dimulai pada 661 SM, tahun di mana Kaisar Jimmu mendirikan Jepang. Artinya 661 SM = Tahun 1 Kooki, sehingga 1945 M = 2605 Kooki. Tahun Kooki sendiri saat ini sudah tidak digunakan lagi sejak Jepang kalah di Perang Dunia II. Gantinya, Jepang menggunakan tahun yang menunjukkan era kaisar. Jadi, saat ini di Jepang, tahun 1945 M lebih dikenal dengan nama Tahun 20 Shoowa, dibandingkan Tahun 2605 Kooki.


Seputar 17 Agustus 1945

Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00 (2 jam sblm pembacaan teks Proklamasi), ternyata Bung Karno masih tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Saat itu, tepat di tengah-tengah bulan puasa Ramadhan. Maklum mendadak!

"Pating greges", keluh Bung Karno setelah dibangunkan Dr. Soeharto, dokter kesayangannya. Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan menenggak pil brom chinine. Lalu ia tidur lagi. Pukul 09.00, Bung Karno terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta.

Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah. "Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka!", ujar Bung Karno di hadapan segelintir patriot-patriot sejati. Mereka lalu menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah Putih. Tentu, lagu kebangsaan yang dinyanyikan saat itu tidak seperti yang kita dengar sekarang. Bahkan masih menjadi perdebatan apakah lagu Indonesia Raya benar-benar karya asli WR Supratman, ataukah 'terinspirasi' oleh lagu Perancis, "Les Marseilles", yg memiliki nada2 yg sangat mirip.

Lihat aja di sini: 
http://www.youtube.com/watch?v=6QvyLkdl1_s&feature=player_embedded
 

Dokumentasi Photo

Latief Hendraningrat tercenung memikirkan kelalaiannya. Karena dicekam suasana tegang, ia lupa menelpon Soetarto dari PFN untuk mendokumentasikan peristiwa itu (proklamasi). Untung ada Frans Mendoer dari IPPHOS yang plat filmnya tinggal tiga lembar (saat itu belum ada rol film). Sehingga dari seluruh peristiwa bersejarah  itu, dokumentasinya hanya ada  tiga; yakni sewaktu Bung Karno membacakan teks Proklamasi, pada saat pengibaran  bendera,  dan  sebagian  foto hadirin yang menyaksikan peristiwa itu. Maklum mendadak!

Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar. Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang.




Soekarno membaca naskah Proklamasi yang sudah diketik Sajuti Melik dan telah ditandatangani Soekarno-Hatta. Pembacaan naskah Proklamasi oleh Ir Soekarno didampingi M Hatta di Pegangsaan Timur Jakarta. Lokasi ini atas usulan Soekarno yang semula diharapkan oleh Sukarni bahwa proklamasi dilakukan di Lapangan Ikada. Akan tetapi  Soekarno  menolak saran Sukarni. ” Tidak ,” kata Soekarno, ” lebih  baik dilakukan  di tempat kediaman saya di Pegangsaan  Timur. Pekarangan  di  depan  rumah cukup luas untuk ratusan orang. Untuk apa kita harus memancing-mancing  insiden ? Lapangan  IKADA adalah lapangan umum. Suatu rapat umum, tanpa diatur sebelumnya dengan penguasa-penguasa militer, mungkin akan menimbulkan salah faham. Suatu bentrokan  kekerasan antara rakyat dan penguasa militer yang akan membubarkan rapat umum tersebut, mungkin akan  terjadi. Karena itu, saya minta saudara sekalian untuk hadir di Pegangsaan  Timur 56 sekitar pukul 10.00 pagi .” Demikianlah keputusan terakhir dari pertemuan itu. Maklum Mendadak!

Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung sangat sederhana; tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor, dan tak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sakral yang dinanti-nanti selama lebih dari 300 tahun! Maklum mendadak!




Bendera Pusaka Sang Merah Putih adalah bendera resmi pertama bagi RI. Tetapi dari apakah bendera sakral itu dibuat? Warna putihnya dari kain sprei tempat tidur dan warna merahnya dari kain tukang soto! Maklum mendadak!



http://www.youtube.com/watch?v=8JyKAFVBEIE&feature=player_embedded#at=15
Soekarno membacakan naskah proklamasi di studio RRI tahun 1951. Dokumentasi yang sering kita dengar itu ternyata dibuat belakangan, karena saat itu tidak ada persiapan peliputan. Maklum mendadak!

http://www.youtube.com/watch?v=N3yk22eIIKg&feature=related
Fakta Seputar Proklamasi - Keiji TV



Mitos 17 dan Sekitarnya


Waktu suasana tenang kembali. Setelah Bung Karno duduk. Dengan suara rendah ia mulai berbicara; ” Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang  tepat. Di  Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan  ini untuk dijalankan tanggal 17 “. ” Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa  tidak sekarang saja, atau tanggal 16 ?” tanya Sukarni. ” Saya seorang yang percaya pada mistik”. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang  berada  dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua  berpuasa, ini berarti saat yang paling suci  bagi kita. tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu  Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat  suci. Al-Qur’an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu  kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia “. Demikianlah antara lain dialog antara Bung Karno dengan para pemuda di Rengasdengklok sebagaimana ditulis Lasmidjah Hardi (1984:61).



Kalau begitu ceritanya, aku jadi berfikir:

Mungkin Soekarno lupa, bahwa Al-Qur'an surat 17  ayat 45 menceritakan tentang orang-orang kafir yang tertutup oleh hijab disebabkan mereka tidak menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidupnya. Wajar saja, apabila negara yang kemudian terbentuk itu tidak pernah menjadikan Al-Qur'an sebagai sumber hukumnya. Ever and never..

"Dan apabila kamu membaca Al-Qur'an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup."
(QS. Al-Israa', 17 : 45)